Laneway Festival

Written by
Laneway Festival

Having fun in a jiffy at Laneway Festival Singapore was the best decision for you who desperately needs a short getaway!

Hujan sempat mengguyur Singapura di sehari sebelum dan sehari setelah Laneway, but luckily, not on that day! Festival yang diadakan selama satu hari ini seolah diberi energi yang spesial— tak ada satupun yang hanya duduk manis dan tak menikmati acara yang juga diadakan di beberapa negara Asia dan Eropa ini.

Hal pertama yang dicari saat tiba: What do people wear?
Laneway terkenal dengan para pengunjungnya yang bergaya indie: baggy pants, boots, and some layers, atau dandanan yang festival banget: halter top, super short pants, and some eye-popping colors! Tapi ternyata saya salah, pengunjung Laneway tahun ini tidak terpatok pada satu atau dua gaya yang tadi saya sebutkan, pokoknya semuanya serba casual tapi stylish! Laneway memang salah satu festival yang wajib didatangi dengan pakaian yang nyaman karena tak ada satu area tertutup, benar-benar seperti piknik yang dilihat di film 90an dimana kamu hanya duduk di atas rumput menghadap ke panggung.

IMG_2489
Kedatangan saya disambut dengan dua panggung besar yang bersebelahan, Garden Stage dan Bay Stage. Memang tidak banyak instalasi atau hiasan yang bisa memanjakan mata di festival ini, sehingga memang harus agak pilih-pilih lokasi untuk dijadikan spot foto.

Saya cukup beruntung mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai Wolf Alice, band alternatif asal London, yang menyatakan hal pertama yang mereka ‘notice’ dari Singapura adalah pohon dan bis.
IMG_1552
Pohon? Tidak banyak pohon di London?

“No, London has loads of trees but not like you have here.” Jelas Theo Ellis, sang bassis.

Ellie Rowsell, the front lady, menceritakan pengalaman pertamanya menonton festival.

“Glastonbury ketika saya masih berusia 17! Saya bersama dua orang teman saya. Kami bahkan tidak tahu harus berharap apa ketika datang. Kami hanya menonton band, ya, banyak band yang juga saya tidak tahu… Kedengarannya konyol untuk membayar tiket dan tidak tahu harus menonton band apa. But it was great, I loved it.

Lalu, dengan pengalaman itu, apa yang diharapkan kalian— sebagai salah satu line up— bermain di festival seperti Laneway?

We don’t know what to expect… Maksudnya, ini adalah kali pertama kami bermain di Singapura. Di sebuah festival seperti ini. Kami punya album baru, saya rasa kami hanya akan mengecek apakah mereka suka.”

Debut mereka Don’t Delete the Kisses menjadi salah satu lagu favorit saya ketika mereka membawakannya sekitar pukul 7 malam.

IMG_1557 (1)
Laneway festival menjanjikan pengalaman baru bagi saya yang memang belum pernah mendatangi festival di luar negeri. Ketepatan waktu dari satu line up ke line up lainnya cukup membuat saya terkesima, terutama bagi Garden Stage dan Bay Stage yang bersebelahan. Setelah The Internet menutup penampilannya yang apik, TADA! Mac DeMarco sudah siap dengan penampilan pembukanya yang memukau!

The ups-and-downs di Laneway Festival tidak hanya terjadi pada genre musiknya yang begitu beragam, pun, secara harfiah, bukit-bukit kecil di area The Meadow di Gardens by The Bay membuat festival ini wajib didatangi dengan sneakers! Tempat-tempat seperti booth makanan dan souvenir ditempatkan di atas bukit-bukit. Begitupun lokasi dari Cloud Stage yang cukup jauh dari lokasi kedua stage lainnya, namun cukup menyita banyak perhatian, termasuk HEALS, band asal Bandung yang membuka stage ini dengan penampilan mereka.

IMG_2509 IMG_2528

Tapi bila saya boleh memilih, penampilan yang menjadi favorit saya adalah Bonobo! Tak menyangka grup satu ini bisa menjadi penutup yang sangat manis untuk Garden Stage. Seketika seluruh area terbuka itu penuh sesak menanti penampilan Bonobo yang didominasi oleh cahaya kuning yang disorot dari belakang.

IMG_2529 IMG_2532

Overall, Laneway Festival 2018 menjadi pengalaman berfestival yang harus dialami para pecinta musik multi-genre. So, see you next year?